Jumat, 05 Januari 2024

Layang Kangen Buat Cinta Pertamaku

                                                Layang Kangen Buat Cinta Pertamaku 


Dearest Bapak, kakung

Apa kabar pak? Sudah bertemu dengan Ibu belum pak? Sesuai janjinya Ibu nyusul bapak setahun kemudian lho. Saat itu saya pulang ke Semarang bareng Audrey, karena Ibu masuk rumah sakit, koma sebelumnya.

Hampir sebulan nungguin di rumah sakit bergantian sama kakak dan adik. Audrey di rumah karena belum cukup umur untuk ikutan jenguk dan juga dia kan sekolah meski online. Jadi pagi-pagi setelah siapin kebutuhannya Audrey, saya berangkat ke rumah sakit hingga malam terus nanti adik atau kakak yang ganti jaga.

Hanya 2 minggu disana karena Ibu kan pakai BPJS, jadi meski belum sadar tetap harus di bawa pulang. Meski tadinya mau bayar sendiri tapi dari pihak rumah sakit menyarankan untuk pulang. Akhirnya kami bawa pulang. Siapa tahu kalau di bawa pulang Ibu sadar dan sembuh karena ada Audrey cucu kesayangannya. Eh semua cucu-cucunya kesayangan Ibu kok, mungkin karena Audrey cucu perempuan yang lama ditunggu kelahirannya ya pak, jadi spesial.

Harapan anakmu ini ternyata meleset pak. Tuhan lebih sayang dan menghendaki Ibu pulang ke Rumah-Nya. Tepat setahun Bapak pergi, Ibu juga pergi meninggalkan kami bertiga. Bulan Desember bagi  saya adalah bulan yang menyedihkan.

Biasanya di awal-awal Desember bapak dan Ibu pasti telepon, menanyakan jadwal liburnya Audrey dan kapan pulang ke Semarang. Sudah merancang rencana jalan-jalan bersama anak, menantu dan cucu-cucunya. Dan saat kami datang, entah siapa yang memberitahu jadwal kami. Bapak sudah duduk di teras menyambut kami. Dan sudah pasti Audrey akan nempel sama Bapak dan Ibu, berceloteh tentang kegiatannya sehari-hari, sekolahnya, kegiatan menari balet. Lantas nanti dia akan show di depan Yangti dan Yangkungnya. Hehehehe

Tetapi sudah 3 tahun ini di saat kami pulang ke rumah, tidak ada lagi yang menyambut. Tidak ada lagi yang memeluk. Suasana rumah sudah berbeda. Sepi, dingin tidak ada lagi yang tiap sore membelikan gorengan tahu petis dan pisang goreng kesukaan kami. yang tersisa adalah kenangan manis kita dulu. 

Disaat kita jalan-jalan di sore hari, kita bergandengan tangan hingga tetangga jauh mengira kalau yang sedang bergandengan itu adalah Bapak dengan Ibu, padahal itu saya yang sedang menggelendot manja. Masih ingat juga lho pak, waktu Bapak marah terus bilang tidak mau jemput sekolah. Eh ternyata saat saya sudah di angkot, supirnya suruh saya turun karena ternyata Bapak jemput karena ga tega. Hahaha kocak.

Maafkan saya ya Pak,disaat bapak terbaring sakit karena jatuh, saya tidak ada di samping Bapak. Saya masih berpikir jatuh biasa seperti biasanya. Ternyata itu jatuh yang terakhir kali setelah menjenguk ibu di kamar. Seperti pamitan untuk pergi.

Sudah 3 tahun tapi rasanya baru kemarin. Bapak sudah bahagia kan bersama Ibu di Rumah Bapa? Doakan kami anak-anak dan cucu-cucu ini, hidup rukun selalu dan selalu mengingat ajaran kalian berdua. Terima kasih atas semua bimbingan kalian dari kami kecil hingga kami sudah berkeluarga. Maaf kami belum dapat membalasnya hanya doa yang kami panjatkan buat Bapak dan Ibu selalu.




3 komentar:

Sekelumit Cerita Liburan di Solo

                    Sekelumit Cerita Liburan di Solo   Hai...apa kabar? Hampir seminggu saya tidak coret-coret karena ada saja halangan, kan...